Menu
Close
Website Resmi

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY

Santri Penggerak Pembaharuan

Santri Penggerak Pembaharuan

Smallest Font
Largest Font

Islam menempatkan ilmu sebagai fondasi kemuliaan manusia. Allah Swt. berfirman:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Artinya: “Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’ (QS. Thaha [20]: 114).
Ayat ini menegaskan bahwa pencarian ilmu merupakan proses sepanjang hayat. Santri tidak boleh merasa cukup dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Tradisi pesantren yang mengajarkan pengkajian kitab, musyawarah, pengulangan pelajaran, dan penghormatan kepada guru merupakan modal penting untuk membangun budaya belajar yang mendalam.

Santri memiliki akar sejarah yang kuat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter, penguatan solidaritas sosial, dan persemaian semangat kebangsaan. Dari pesantren lahir ulama, pendidik, pejuang, pemimpin masyarakat, dan tokoh bangsa yang berkontribusi dalam perjalanan Indonesia.

Namun, tantangan santri masa kini tidak lagi terbatas pada perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan. Santri menghadapi tantangan yang lebih kompleks, mulai dari perkembangan kecerdasan buatan, arus informasi digital, krisis moral, intoleransi, ketimpangan sosial, hingga kerusakan lingkungan. Karena itu, semangat Hari Santri perlu diterjemahkan menjadi jihad keilmuan, keteladanan akhlak, kemandirian ekonomi, dan pengabdian nyata bagi masyarakat.

Penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 merupakan pengakuan negara terhadap kontribusi santri dan pesantren dalam sejarah kebangsaan. Pelajaran terpenting dari sejarah tersebut adalah bahwa keberagamaan dan nasionalisme tidak harus dipertentangkan. Kecintaan kepada tanah air dapat menjadi ruang pengamalan nilai-nilai agama melalui perlindungan terhadap kehidupan, keadilan, persaudaraan, dan kemerdekaan.

Dalam kehidupan berbangsa, santri perlu menjadi penjaga persatuan tanpa kehilangan daya kritis. Nasionalisme tidak berarti membenarkan semua kebijakan tanpa evaluasi. Sebaliknya, cinta tanah air diwujudkan melalui partisipasi yang bertanggung jawab, kritik yang konstruktif, penegakan keadilan, dan kepedulian terhadap kelompok masyarakat yang rentan. Santri tidak boleh berhenti menjadi pewaris tradisi, tetapi harus menjadi penggerak pembaruan. Tradisi keilmuan harus dijaga, sementara metode dan strategi pengabdian terus dikembangkan untuk menjawab tantangan zaman.

Pada akhirnya, kemuliaan santri bukan hanya ditentukan oleh identitas dan simbol yang dikenakannya, melainkan oleh ilmu yang diamalkan, akhlak yang diteladankan, persaudaraan yang dirawat, dan kemaslahatan yang dihadirkan.

Dr. H. Nur Ahmad Ghojali M.A.
Wakil Ketua PWM DIY
BPH RS PKU Kotagede.
Home care/ Home visit, WA no. 0895367511128
Wakaf bangunan, matrial, Infaq, Taawun rek 
Bank Muamalat an RSKIA PKU KOTAGEDE 
Nomor rekening 5670009965
 konfirmasi WA Hermini
+62 878-4568-0100

Editors Team
Daisy Floren
Daisy Floren
Redaksi Author

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow