Menu
Close
Website Resmi

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY

Ekoteologi Kekeringan

Ekoteologi Kekeringan

Smallest Font
Largest Font

Saat ini, ada fenomena perubahan iklim dan bencana ekologis yang kian nyata di sekitar kita. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, status Awas Kekeringan Meteorologis telah ditetapkan oleh BMKG. Berdasarkan laporan situasi penanganan kekeringan, puluhan ribu jiwa saudara-saudara kita di Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo mengalami krisis air bersih yang sangat berat. Ribuan tangki air bersih disalurkan setiap hari untuk menopang kehidupan masyarakat di ratusan titik padukuhan. Ketika Lazismu DIY beraudiensi dengan PWM DIY dilaporkan kondisi kekeringan di DIY (13/10/2026).

Fenomena kekeringan ini bukan sekadar persoalan pergantian musim belakangan ini, melainkan peringatan dari Allah SWT tentang pentingnya Ekoteologi—yaitu pemahaman keagamaan yang menempatkan kelestarian lingkungan sebagai bagian integral dari iman dan tauhid kita.

​Allah SWT menciptakan bumi dalam keadaan seimbang dan harmonis. Manusia ditunjuk sebagai khalifah (pemimpin dan pengelola) di muka bumi, sebagaimana firman-Nya:

​وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'" (QS. Al-Baqarah: 30)

​Gelar khalifah bukanlah lisensi untuk mengeksploitasi alam seenaknya, melainkan sebuah tanggung jawab (amanah) untuk merawat, menjaga, dan memakmurkan bumi. Allah melarang keras perbuatan merusak alam:

​وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya..." (QS. Al-A'raf: 56)

Dalam perspektif ekoteologi, hubungan manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan dari hubungannya dengan Sang Pencipta. Alam adalah ciptaan Allah yang memiliki keteraturan, keseimbangan, dan manfaat bagi berbagai makhluk. Karena itu, memperlakukan alam dengan sewenang-wenang berarti mengabaikan tanggung jawab yang diberikan Allah kepada manusia.

Prof. Seyyed Hossein Nasr, seorang cendekiawan Muslim terkemuka, menyatakan bahwa krisis lingkungan global saat ini pada hakikatnya adalah krisis spiritual manusia. Manusia modern telah kehilangan kesadaran akan kesucian alam (sacred science of nature) dan memandang alam semata-mata sebagai objek pemuas kesenangan. Padahal dalam Islam, alam semesta adalah ayat kauniyyah—tanda-tanda kebesaran Allah yang senantiasa bertasbih kepada-Nya.

​Oleh karena itu, Islam mengajarkan konsep Hima (kawasan konservasi lindung) dan Ihya’ al-Mawat (pemanfaatan dan penghijauan lahan kritis) sebagai wujud kesalehan ekologis. Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat konkret dalam menjaga air dan lingkungan:
​Hemat dalam Menggunakan Air Dari Anas bin Malik RA, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berwudhu hanya dengan satu mud air (sekitar 0,6 liter) dan mandi dengan satu sha' hingga lima mud air (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah melarang pemborosan air, bahkan ketika seseorang berwudhu di tepi sungai yang mengalir deras. Berikutnya m​enanam pohon sebagai sedekah jariyah walaupun yang menanam tidak akan menikmatinya.

Dr. H. Nur Ahmad Ghojali M.A.
Wakil Ketua PWM DIY
BPH RS PKU Kotagede.
Home care/ Home visit, WA no. 0895367511128
Wakaf bangunan, matrial, Infaq, Taawun rek 
Bank Muamalat an RSKIA PKU KOTAGEDE 
Nomor rekening 5670009965
Konfirmasi WA Hermini
+62 878-4568-0100

Editors Team
Daisy Floren
Daisy Floren
Redaksi Author

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow