Menu
Close
Website Resmi

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY

Bersyukur Terhadap Nikmat Air

Bersyukur Terhadap Nikmat Air

Smallest Font
Largest Font

Turunnya hujan setelah umat Islam melaksanakan salat Istisqa dan memanjatkan doa dalam salat Jumat merupakan momentum yang patut disyukuri. Terlebih ketika sebelumnya masyarakat menghadapi kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, mengeringnya sumber-sumber air, dan ancaman terhadap kehidupan pertanian serta kebutuhan sehari-hari. 

Dalam situasi demikian, salat Istisqa bukan sekadar ritual meminta hujan. Ia menjadi ungkapan kerendahan hati manusia di hadapan Allah, pengakuan atas keterbatasan diri, sekaligus momentum untuk memperkuat persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama.

Ketika hujan kemudian turun setelah ikhtiar tersebut, umat memperoleh kesempatan untuk merenungkan hubungan antara doa, usaha, harapan, dan rahmat Allah. Islam mendorong manusia untuk memohon pertolongan Allah sekaligus menggunakan akal, pengetahuan, dan sarana yang tersedia untuk menjaga kehidupan.

Syekh Yusuf al-Qaradawi, dalam pemikiran-pemikirannya tentang fikih dan tanggung jawab sosial umat, menekankan pentingnya memahami ajaran Islam dalam hubungannya dengan kemaslahatan manusia. Prinsip ini relevan untuk mengingatkan bahwa respons terhadap kekeringan harus mencakup dimensi ibadah sekaligus tindakan nyata.

Sementara itu, Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu membahas Istisqa sebagai bagian dari fikih ibadah dengan landasan Al-Qur’an dan sunah. Pendekatan fikih semacam ini menegaskan bahwa permohonan hujan bukan sekadar tradisi sosial, tetapi ibadah yang mempunyai dasar syariat dan tata cara yang perlu dipahami. Dalam perspektif ekoteologi Islam, gagasan yang dikembangkan oleh sejumlah pemikir Muslim kontemporer juga mengingatkan bahwa manusia merupakan bagian dari tatanan ciptaan Allah. Ibadah semestinya menumbuhkan tanggung jawab ekologis, bukan berhenti pada kegiatan ritual.

Dari sini, terdapat tiga langkah yang perlu berjalan bersama:

  1. Ikhtiar spiritual: melaksanakan Istisqa, memperbanyak doa, beristigfar, bertobat, dan memperkuat solidaritas.
  2. Ikhtiar ilmiah: menggunakan informasi cuaca, mengelola cadangan air, memperbaiki sistem irigasi, dan memanfaatkan teknologi konservasi air.
  3. Ikhtiar ekologis: menjaga hutan dan vegetasi, melindungi daerah resapan, memperbanyak sumur resapan sesuai kondisi tanah, serta menghindari pencemaran dan pemborosan air.

Ketiganya tidak saling menggantikan. Doa memberikan orientasi penghambaan, ilmu membantu memahami kondisi alam, sedangkan tindakan ekologis merupakan bentuk tanggung jawab manusia terhadap kehidupan.

Kita berdoa bukan untuk mengendalikan kehendak Allah, melainkan untuk mengakui ketergantungan kepada-Nya. Kita berikhtiar bukan karena menganggap diri mampu menguasai seluruh alam, melainkan karena manusia diberi tanggung jawab untuk menggunakan kemampuan yang dimilikinya. Ketika hujan turun, bersyukurlah. Ketika hujan belum turun, jangan berputus asa. Dan ketika air telah tersedia, jangan menyia-nyiakannya.

Dr. H. Nur Ahmad Ghojali M.A.
*Wakil Ketua PWM DIY*
*BPH RS PKU Kotagede.*
Home care/ Home visit, WA no. 0895367511128_*
*Wakaf bangunan, matrial, Infaq, Taawun rek 
Bank Muamalat an RSKIA PKU KOTAGEDE 
Nomor rekening *5670009965*
 konfirmasi WA Hermini
+62 878-4568-0100
*@semua*

Editors Team
Daisy Floren
Daisy Floren
Redaksi Author

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow